asmitagari

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site

ACARA II REAKSI …

ACARA II

REAKSI ASAM BASA I

 

 

  1. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
    1. Tujuan Praktikum :

– Untuk mengetahui cara pembuatan indikator penentuan PH larutan dari ekstrak tumbuh- tumbuhan.

–  Menentukan PH larutan dengan indikator dan berbagai larutan buffer.

 

  1. Waktu Praktikum :

Kamis, 26 April 2012

  1. Tempat Praktikum :

 Laboratorium Kimia Dasar, Lantai III, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Mataram.

 

  1. LANDASAN TEORI

Arhenius mendefinisikan asam sebagai zat yang larutannya didalam air menghasilkan OH. Brownsted dan Lowry mendefinisikan asam sebagai zat yang dapat memberi proton kepada zat lain, sedangkan basa ialah zat yang dapat menerima proton dari asam. Dari teori asam basa menurut Lewis adalah basa ialah zat yang dapat memberikan pasangan electron, sedangkan asam adalah zat yang dapat menerima pasangan electron untuk membentuk ikatan kovalen koordinat (Sukardjo, 2002: 306).

Asam dan basa yang saling berkaitan dalam pertukaran proton disebut pasangan asam basa konjugasi. Tidak ada zat yang dapat bertindak sebagai asam jika tidak terdapat basa yang dapat menerima proton. Zat yang dapat bertindak sebagai asam maupun basa disebut zat amtiprotik (Ahmad, 2001: 99).

Definisi yang pertama dan yang paling sederhana untuk asam dan basa adalah definisi arhenius. Ia mengatakan bahwa asam adalah suatu zat yang terdisosiasi dalam air untuk menghasilkan H+, sedangkan basa adalah suatu zat yang berdisosiasi dalam air untuk menghasilkan OH. Sedangkan menurut Brownsted-Lowry asam adalah zat yang dapat memberikan proton dan basa adalah zat yang dapat menerima proton. Serta menurut Lewis asam adalah zat yang dapat menerima electron dan basa adalah zat yang dapat memberikan electron. Sistem Lewis ini berguna untuk menggolongkan reaksi-reaksi yang terjadi dalam pelarut selain air atau pada keadaan tidak terdapat solven (Bresnick, 2002:60).

Indicator asam basa pada dasarnya adalah zat kimia yang mampu berubah warna atau tetap dalam suasana larutan yang bersifat asam, basa atau netral. Ada dua macam indicator asam basa yang sering digunakan untuk kegiatan praktikum siswa di laboraturium atau lapangan, yaitu indicator buatan dan indicator alam (Sidharta, 2007).

 

  1. ALAT DAN BAHAN PRAKTIKUM

       1. Alat-alat praktikum

– Corong

– Gelas kimia 250 ml

– Gelas ukur 50 ml

– Gelas ukur 100 ml

– Kertas saring

– Kotak bjjerum                

– Mortar

– Penggaris

– Pipet tetes

– Pipet volum 25 ml

– Pipet volum 5 ml

– Plat tetes                         

– Rubber bulb

– Rak tabung reaksi

– Sel percobaan

– Tabung reaksi

– Penggerus

– Spatula

2. Bahan-bahan praktikum

– Bunga sepatu

– Etanol

– Larutan asam borat() 2 %

– Indikator (Brom-krosol)

– Larutan COOH 0,1 M

– Larutan HCl 0,1 M

– Larutan NaCl 5 %

– Larutan NaOH 0,1 M

– Larutan NaOH 0,01 M

– Larutan  5 %

– Larutan NaH

– pH stick

– Kertas saring

– Label

– Larutan buffer asetat

 

 

  1. PROSEDUR PERCOBAAN

1. Pembuatan Ekstrak Tumbuh-tumbuhan untuk indikator

 a. Mahkota bunga sepatu dipotong kecil-kecil.

 b. Potongan bunga dimasukkan kedalam mortar, kemudian dihaluskan.

 c. Ditambahkan 5 ml etanol, kemudian diaduk hingga zat warnanya tereaksi sebanyak mungkin.

2. Penentuan trayek perubahan warna

a. Larutan baku di teteskan kedalam plat tetes sebanyak 2 tetes.

b. Diteteskan ekstrack bunga pada larutan baku tersebut.

c. Digunakan pH stick untuk menentukan larutan bersifat asam atau basa.

3. Pemakaian Ekstrak Tumbuhan Sebagai Indikator

a. Dimasukkan larutan HCl dan NaOH dengan konsentrasi 0,1 M.

b. Diteteskan 25 tetes larutan HCl 0,1 M ditambahkan 2 tetes ekstrak tumbuhankedalam   tabung  reaksi.

c. Diteteskan basa NaOH 0,1 M kedalamnya, setetes demi setetes sehingga warna larutan          berubah.

4. Penentuan pH Dengan Indikator Pengukuran Panjang  Bjjum

a. Dimasukkan kedalam kotak bjjerum  50 ml basa (NaOH 0,1 M) dan 50 ml asam (HCl      0,1 M).

b. Ditambahkan larutan indikator brom kresol kedalam larutan asam dan basa tadi.

c. Kedalam sel percobaan dimasukan 25 ml larutan buffer, kemudian ditambahkan setetes demi setetes larutan indikator. Dicatat hasil pengamatan.

d. Warna larutan dalam sel percobaan dibandingkam terhadap warna dalam kotak bjjerum.

e. Ditandai tempat kotak bjjerum dimana warna larutan didalam kotak mempunyai warna yang sama  dengan warna larutan dalam sel percobaan.

f. Diukur jarak dari tepi kotak ke tempat sel percobaan.

g. Dihitung pH dari larutan dalam sel percobaan dengan pertolongan rumus  yang telah diberikan.

  1. HASIL PENGAMATAN

            (Terlampir).

  1. ANALISIS DATA

1. Persamaan Reaksi

              O

 

 

 

            2. Tabel

                 a. Tabel Penentuan pH Dengan Indikator Bunga

No

Larutan

Nilai pH

pH pengukuran

warna

1.

HCl 0,1 M

1

1

Merah

2.

COOH 0,1 M

3

3

Merah muda

3.

2 % asam borat

5 (kira-kira)

5

Pink

4.

5 % larutan NaCl

7

7

Ungu

5.

5 % larutan

8,3

8

Hijau pekat

6.

5 %

10,6

10

Abu tua

7.

0,01 M NaOH

12

12

abu

 

                 b. Tabel Penentuan pH Dengan Larutan Buffer

Larutan Buffer

Pengukuran

Nilai asetat

COOH

A

B

20

80

2

18

30

70

5

15

40

60

8

12

50

50

10

10

60

40

12

8

70

30

15

5

80

20

18

2

 

            3. Perhitungan

Dik. Ka COOH = 1,8 x

            PKa = -log Ka

                    = -log1,8 x

                       = 5 – log 1,8

                       = 5 – 0,25

                       = 4,75

  1. Larutan Buffer ( 30:70)

a = 5 cm

b = 15 cm

pH = PKa + log

       = 4,75  + log

      = 4,75 + log 0,33

      = 4,75 – 0,48

      = 4,27

% error = x 100 %

              = x 100 %

               = 1,83 %

  1. Larutan Buffer ( 60:40)

a = 12 cm

b = 8 cm

pH = PKa + log

       = 4,75  + log

      = 4,75 + log12

      = 4,75 + 1,07   0,90

      = 4,92

% error = x 100 %

              = x 100 %

               = 2,07 %

  1. Larutan Buffer ( 80:20)

a = 18 cm

b = 2 cm

pH = PKa + log

       = 4,75  + log

      = 4,75 + log18 2

      = 4,75 +1,25 – 0,3

      = 5,7

% error = x 100 %

              = x 100 %

               = 8,57 %

  1. Larutan Buffer ( 50:50)

a = 10 cm

b = 10 cm

pH = PKa + log

       = 4,75  + log

      = 4,75 + log 10 10

      = 4,75 +1 – 1

      = 4,75

% error = x 100 %

              = x 100 %

               = 3,03 %

  1. Larutan Buffer ( 20:80)

a = 2 cm

b = 18 cm

pH = PKa + log

       = 4,75  + log

      = 4,75 + log 2 18

      = 4,75 + 0,3 – 1,25

      = 3,8

% error = x 100 %

              = x 100 %

               = 6,17 %

  1. Larutan Buffer ( 70:30)

a = 15 cm

b = 5 cm

pH = PKa + log

       = 4,75  + log

      = 4,75 + log 15 5

      = 4,75 + 1,17 – 0,69

      = 5,23

% error = x 100 %

              = x 100 %

               = 4,6 %

  1. Larutan Buffer ( 40:60)

a = 8 cm

b = 12 cm

pH = PKa + log

       = 4,75  + log

      = 4,75 + log 8 12

      = 4,75 +  0,90 – 1,07

      = 4,58

% error = x 100 %

              = x 100 %

               = 1,77 %

 

  1. PEMBAHASAN

Pada praktikum ini, kita membahas tentang reaksi asam basa I dengan empat prosedur utama, diantaranya adalah ekstrak tumbuh-tumbuhan, penentuan trayek perubahan warna, pemakaian ekstrak tumbuhan sebagai indicator, dan penentuan pH dengan indicator.

Pada percobaan pertama, yaitu pencampuran antara potongan bunga sepatu dan etanol. Pemotongan ini bertujuan untuk memperkecil molekul sehingga memperluas permukaan dan mempercepat reaksi. Setelah digerus warnanya berubah menjadi ungu kemerah-merahan. Perubahan warna yang terjadi disebabkan adanya zat dari dalam tumbuhan yang berfungsi sebagai indikatora asma basa.

Ada banyak zat yang warnanya dalam larutan tergantung pada suasana pH, zat yang demikian banyak terdapat dalam tumbuh-tumbuhan dan sering digunakan seabagai indicator. Indicator ialah asam atau basa yang warnanya dalam suasana asam berbeda dengan suasana basa. Bunga sepatu merupakan salah satu tumbuhan yang paling sering digunakan sebagai indicator kaarena kandungan zat gelatinnya yang tidak mudah berubah. Daam praktikum ini pembuatan ekstrak tumbuh-tumbuhan sebagai idikator masih sedrhana dengan menggunakan alcohol sebagai pelarut, agra hasil yang didapatkan universal. Pada indicator alami tidak dapat ditentukan derajat keasaman larutan tetapi hanya menentukan apakah larutan tersebut bersifat asam atau basa.

Pada penentuan  trayek perubahan warna didunakan tujuh macam larutan baku dengan ekstrak tumbuhan sebagai indikatornya. Disebut larutan baku karena sudah diketahui pH nya. Dari hasil pengamatan, pada masing-masing larutan terjadi perubahan warna yang signifikan, yaitu:

–          Larrutan HCl 0,1 M berwarna merah

–          Larutan CH3COOH 0,1 M berwarna merah pudar

–          Larutan asam borat 2 % warna merah muda (pink)

–          Larutan NaCl 5% berwarna ungu

–          Larutan NaHCO3 5% bewarna hijau pekat

–          Larutan Na2CO3 5% berwarna abu tua

–          Larutan NaOH 0,01 M berwarna abu

Warna merah muda maupun ungu mengindikasikan bahwa larutan tersebut bersifat asam  sedangkan warna hijau atau abu-abu bersifat basa.

  Selanjutnya lauratan yang telah berubah warna dicari derajat keasaman maupun kebasaanya dengan menggunakan indicator universal. Indicator ini berubah warnanya pada setiap harga pH tertentu,dan data yang diperoleh adalah:

–          Larrutan HCl 0,1 M memiliki pH=1

–          Larutan CH3COOH 0,1 M memilki pH=3

–          Larutan asam borat 2 % memiliki pH=5

–          Larutan NaCl 5% memiliki pH=7

–          Larutan NaHCO3 5% memilki pH=8

–          Larutan Na2CO3 5% memiliki pH=10

–          Larutan NaOH 0,01 M memiliki pH=12

Makin kecil harga pH larutan, makn kuat sifat asamnya. Makin besar harga pH, maka makin sifatnya. Makin besar harga pH, maka makin kuat sifat basanya. PadaNaCl pH yang ditunjukan adalah 7, karena NaCl adalah garam yang bersifat netral.

            Pada pemakaian ekstrak tumbuhan sebagai indicator dengan cara titrasi, dari hasil pengaatan diperoleh perubahan warna antara pencampuran larutan HCl 0,1M denga 2 tetes ekstrsk tumbuhan menjadi merah. Hal ini menindkikasikan bahwa HCl bersifat asam. Kemudian dititrasi dengan NaOH, warna merah berubah menjadi bening pada tetesan ke 28. Pada awknya larutan tadi bersifat asam (larutan HCl), namun setelah ditambahkan NaOH larutan berubah menjadi basa.

            Pada percobaan keempat, yaitu menetukan pH dengan indicator menggunakan kotak bjjerum kotak terdiri dari dua bagian yang mesing – masing berbentuk segitiga. Memalui bagian depan dari kotak bjjeru ini terlihat seluruh bagian daerah perubahan warna indicator dari keadaan asam hingga keadaan basa. Dengan mengetahui tetapan indicator, pH larutan dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut:

pH       = pKa + log

Jadi, warna yang terllihat pada kotak bjjerum adalah warna asam dan warna basa sari indicator yang terdapat dalam perbandingan tertentu, karena kedua warna ini terdapat dalam wadah yang terpisah satu sama lain, maka perbandingan konsentrasinnya pada setiap tempat, sepanjang kotak dapat segera diketahui dan dihitung. Pada perobaan indicator yang digunakan adalah Brom – Kresol hijau. Dari hasil pengamatan dan analisis data diiperoleh nilai:

–          pH untuk buffer 20:80      = 3,8 dengan %eror     = 6,17%

–          pH untuk buffer 30:70      = 4,27 dengan %eror   = 1,83%

–          pH untuk buffer 40:60      = 4,58 dengan %eror   = 1,77%

–          pH untuk buffer 50:50      = 4,75 dengan %eror   = 3,03%

–          pH untuk buffer 60:40      = 4,92 dengan %eror   = 2,07%

–          pH untuk buffer 70:30      = 5,23 dengan %eror   = 4,6%

–          pH untuk buffer 80:20      = 5,7 dengan %eror     = 8,57%

Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa semakin besar %eror maka tingkt presentasi kesalahan semakin besar dalam praktikum. Hal ini disebabkan karean kesalahan penentuan warna pada yang tampak pada kotak bjjerum.

 

 

  1. KESIMPULAN

–           Zat yang warnanya tergantung pada pH larutan, banyak terdapat pada tumbuh-tumbuhan. Sehingga ekstrak tumbuh-tumbuhan sering digunakan sebagai indicator, salah satu diantaranya yaitu bunga sepatu yang tidak mudah berubah warna karena kandungan gelatinnya, selain itu bunga sepatu mudah ditemukan.

–          Kotak bjjerum dapat digunakan untuk menentukan pH larutan denga menggunakan rumus:

pH = pKa + log

 

semoga bermanfaat🙂

amiiiinnnn….:*

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: