asmitagari

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site

ACARA IPEMBUATA…

ACARA I

PEMBUATAN LARUTAN

 A. PELAKSANAAN PRAKTIKUM

1. Tujuan Praktikum

Untuk mempelajari dan melatih cara-cara pembuatan larutan dengan konsentrasi tertentu.

2.Hari, Tanggal Praktikum

Kamis, April 2012

3.Tempat Praktikum

Laboratorium Kimia Dasar, Lantai II, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Mataram.

B.LANDASAN TEORI

Larutan yang saling melarutkan adalah campuran dua larutan polar (misal, air dan alcohol) atau dua larutan nonpolar (misal, karbontetraklorida dan benzena) yang membentuk larutan satu fase yang homogen. Larutan yang tidak saling melarutkan adalah campuran dari zat cair polar dengan zat cair nonpolar (misal, air dengan karbontetraklorida) yang membentuk larutan dua fase. Larutan ideal adalah larutan yang mengikuti hukum Raoult (P= ρᵒAXA + ρᵒBXB). Dalam larutan-larutan ini, solut dan solvent mempunyai sifat kimia yang sama, sehingga gaya antar molekul solvent dan gaya antar molekul solute sekuat solven-solven atau solut- gaya antar molekul solut. Larutan tidak ideal tidak mengikuti hukum Raoult (Bresnick, 2002:51).

Larutan didefinisikan sebagai campuran homogen antara dua zat atau lebih yang terdispersi baik sebagai molekul, atom maupun ion yang komposisinya dapat bervariasi. Larutan dapat berupa gas, cairan atau padatan. Larutan encer adalah larutan yang mengandung sejumlah kecil solute, relative terhadap jumlah pelarut. Sedangkan larutan pekat  adalah larutan yang mengandung sebagian besar solute. Solute adalah zat terlarut, sedangkan solvent (pelarut) adalah medium dalam solute terlarut (Baroroh, 2004:151).

Pada umumnya zat yang digunakan sebagai pelarut adalah air, selain air yang berfungsi sebagai pelarut adalah alcohol amoniak, kloroform, benzene, minyak, asam asetat, akan tetapi kalau menggunakan air biasanya tidak disebutkan (Gunawan, 2004:213).

Larutan pada dasarnya adalah fase yang homogen yang mengandung lebih dari satu kompenen. Kompenen yang terdapat dalam jumlah kecil disebut zar terlarut atau solute, sedangkan komponen yang terdapat dalam jumlah besar disebut pelarut atau solvent. Konsentrasi suatu larutan didefinisikan sebagai jumlah solute yang ada dalam sejumlah larutan atau pelarut. Konsentrasi dapat dinyatakan dalam beberapa cara, antara lain molaritas, molalitas, normalitas dan sebagainya (Anonim, 2012).C.

C. ALAT DAN BAHAN PRAKTIKUM

    1. Alat Praktikum
      1. Timbangan analitik
      2. Labu ukur
      3. Gelas kimia
      4. Spatula
      5. Gelas arloji
      6. Pipet tetes
    2. Bahan praktikum
      1. NaOH Pellet
      2. NaCl
      3. Aquades
  1. PROSEDUR PERCOBAAN
    1. Larutan NaCl
      1. Dihitung massa ( gr ) NaCl yang digunakan dari % w/v yang ditentukan yaitu 0,5% dan 1%.
      2. Ditimbang NaCl dengan gelas arloji di atas timbangan analitik sesuai massa yang didapatkan.
      3. NaCl yang sudah ditimbang, dimasukkan ke dalam gelas kimia dan diberi aquades secukupnya, hanya untuk melarutkan saja.
      4. Campuran NaCl dan aquades diaduk.
      5. Setelah NaCl larut, larutan dimasukkan ke dalam labu ukur.
      6. Gelas kimia dibilas dinding-dindingnya dengan aquades.
      7. Air hasil bilasan dimasukkan ke dalam gelas ukur yang sama seperti tadi.
      8. Ditambahkan aquades ke dalam labu ukur hingga volumenya menjadi 50 ml.
  1. Larutan NaOH
    1. Dihitung massa ( gr ) NaOH pellet yang digunakan dari konsentrasi yang telah diketahui, yaitu 0,75 M dan 0,5 M.
    2. Dihitung NaOH pellet dengan gelas arloji di atas timbangan analitik sesuai dengan massa yang didapatkan.
    3. NaOH pellet yang sudah ditimbang, dimasukkan ke dalam gelas kimia dan diberi aquades secukupnya, hanya untuk melarutkan saja.
    4. Campuran NaOH pellet dengan aquades diaduk.
    5. Setelah NaOH pellet tercampur, larutan dimasukkan ke dalam labu ukur.
    6. Gelas kimia dibilas dinding-dindingnya dengan aquades.
    7. Air hasil bilasan dimasukkan ke dalam gelas ukur yang sama seperti tadi.
    8. Ditambahkan aquades ke dalam labu ukur hingga volumenya menjadi 50 ml.
  1. HASIL PENGAMATAN

( Terlampir ).

  1. ANALISIS DATA
    1. Persamaan reaksi
      1. NaOH (s) + H2O(l)                            NaOH(aq) + H2O(l)
      2. NaCl( S) + H2O (l)                             NaCl (aq) + H2O (l)

 

  1. Perhitungan gram
  • Massa NaCl yang diperlukan untuk membuat larutan NaCl 0,5 % dan 1 % dengan volume larutan 50 ml

a)      %     =  x 100 %

0,5 %  =  x 100 %

=

= 100 x

=

=

Massa NaCl 0,5 % adalah 0,25 gram

b)      %     =  x 100 %

1 %     =  x 100 %

=

= 100 x

=

=

Massa NaCl 1 % adalah 0,5 gram

  • Massa NaOH yang diperlukan untuk membuat larutan NaOH 0,75 M dan 0,05 M dengan volume larutan 50 ml

c)      M        =

Mol     = M x Volume

= 0,75 x 50

= 37,5 mmol

= 0,0375 mol

Massa NaOH = Mol x Mr

= 0,0375 x 40

= 1,5 gram

Massa NaOH yang digunakan untuk membuat larutan 0,75 M dengan volume 50 ml adalah 1,5 gram

d)     M        =

Mol     = M x Volume

= 0,5 x 50

= 25 mmol

= 0,025 mol

Massa NaOH = Mol x Mr

= 0,025 x 40

= 1 gram

Massa NaOH yang digunakan untuk membuat larutan 0,5 M dengan volume 50 ml adalah 1 gram

  1. Tabel

Kelompok

Konsentrasi

V Larutan

( ml )

Gram NaCl

Gram NaOH

NaCl ( % ) NaOH ( M )

I

0,5

0,75

50

0,25

1,5

II

1

0,5

50

0,50

1

G. PEMBAHASAN

Larutan merupakan campuran homogen dari zat terlarut (solute) dan pelarut (solvent). Zat terlarut dapat berupa padat, cair dan gas. Sedangkan pelarut biasanya berupa cair. Banyaknya zat terlarut pada pelarutnya sering dinyatakan dengan konsentrasi. Konsentrasi adalah perbandingan antara zat terlarut dan pelarutnya.

Pada praktikum kali ini, kita akan membahas tentang pembuatan larutan yang bertujuan untuk mempelajari dan melatih cara-cara pembuatan larutan dengan konsentrasi tertentu. Satuan konsentrasi yang kita gunakan disini adalah % massa dan molaritas (M). Dari kedua satuan konsentrasi tersebut, kita dapat mengetahui gram NaCl dan NaOH yang akan dilarutkan dalam aquades.

Pada percobaan 1, kita akan mencoba membuat larutan NaCl dengan konsentrasi berbeda yaitu 0,5% dan 1%. Namun sebelumnya, dihitung terlebih dahulu massa dari masing-masing NaCl dengan rumus:

% masaa =  x 100%

NaCl 0,5% diperoleh massa yaitu 0,25 gr dan NaCl 1% diperoleh massa yaitu 0,5 gr, dengan volume air yaitu 50 ml.

Selanjutnya NaCl ditimbang sesuai dengan hasil perhitungan masaa, kemudian dilarutkan dengan sedikit aquades dan diaduk hingga larut. Pada proses pengadukan NaCl tidak terjadi reaksi. Warna larutan bening dan juga tidak terjadi perubahan suhu. Pelarutan NaCl dalam air merupakan interaksi kuat antara zat terlarut dengan pelarut karena partikel zat tersebut bersifat ion atau polar dengan pelarutnya juga bersifat polar. Karena zat berupa ion, maka terjadi gaya ion-dipol antara ion zat terlarut dengan pelarut. Gaya ini lebih besar dari gaya dipol-dipol antara molekul, akhirnya terjadi solvasi, yaitu pengurangan partikel zat terlarut oleh molekul pelarut. Pada percobaan ini pelarut yang digunakan adalah air dan zat yang terlarut adalah NaCl. Pelarutan ini disebut hidrasi. Beberapa molekul air menghadap kutub positifnya Cl dan yang lainnya menghadap kutub negatifnya ke Na+. Akibatnya semua ion itu saling berjauhan karena terhidrasi dan melarut. Artinya satu ion Na+ dikelilingi oleh beberapa molekul air dan begitu juga Cl, sesuai reaksi :

NaCl(s) + H2O(l) → NaCl(aq)

     Percobaan ke 2 yaitu pembuatan larutan NaOH dengan konsentrasi tertentu, yang diketahui adalah molaritas (M) NaOH. Molaritas yang diketahui yaitu 0,75 M dengan 0,5 M. Dari konsentrasi ini, kita dapat mengetahui massa NaOH terlebih dahulu dengan rumus:

M =  x

Harga kemolaran dapat ditentukan dengan perhitungam mol zat terlarut dan volume larutan. Volume larutan adalah volume zat terlarut dan pelarut setelah bercampur. Setelah didapatkan massa NaOH dalam satuan gram yaitu massa NaOH 0,75 M adalah 1,5 gram dan massa NaOH 0,5 M adalah 1 gram, NaOH kemudian dilarutkan dengan sedikit aquades dan diaduk.

Pada saat proses pengadukan, larutan menjadi panas, karena terjadi pelepasan kalor ke lingkungan. Warna larutan tetap bening. Reaksi yang terjadi tersebut disebut dengan reaksi eksoterm, yaitu perpindahan kalor dari system ke lingkungan. Suhu pada NaOH 0,5 M lebih rendah dari pada suhu NaOH 0,75 M. kemudian, setelah dilarutkan dalam gelas kimia, larutan dipindahkan ke labu ukur. Setelah itu ditambahkan aquades hingga tanda batas. Semakin besar massa NaOH maka suhunya semakin tinggi. NaOH bersifat basa kuat karena Na sangat mudah melepas atau memberikan electron sehingga atom Na memiliki energy ionisasi yang cukup rendah, akibatnya NaOH sangat mudah terurai menjadi Na+ dan ion OH.

H.KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

–          Larutan merupakan campuran beberapa zat, dimana ada yang bertindak sebagai pelarut dan ada yang bertindak sebagai zat terlarut. Semakin besar konsentrasi suatu zat maka semakin besar pula massa zat tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: