asmitagari

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site

ACARA IV ANALISI…

ACARA IV

ANALISIS KUANTITATIF ASIDIMETRI DAN ALAKALIMETRI

 

  1. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
    1. Tujuan Praktikum

–          Menentukan konsentrasi larutan NaOH dengan larutan baku primer asam oksalat.

–          Menentukan konsentrasi larutan HCl dengan larutan baku sekunder NaOH.

  1. Hari, Tanggal Praktikum

Kamis, 3 Mei 2012

  1. Tempat Praktikum

Laboratorium Kimia Dasar, Lantai III, Fakultas MIPA, Universitas Mataram.

 

  1. LANDASAN TEORI

Asidimetri adalah pengukuran konsentrasi asam dengan menggunakan larutan baku basa, sedangkan alkalimetri adalah pengukuran konsentrasi basa dengan menggunakan larutan baku asam. Oleh sebab itu, keduanya disebut juga sebagai titrasi asam-basa. Titrasi adalah proses mengukur volume larutan yang terdapat dalam buret yang ditambahkan kedalam larutan lain yang diketahui volumenya sampai terjadi reaksi sempurna. Atau dengan perkataan lain            untuk mengukur volume titran yang diperlukan untuk mencapai titik ekivalen. Titik ekivalen adalah saat yang menunjukkan bahwa ekivalen pereaksi-pereaksi sama. Di dalam prakteknya titik ekivalen sukar diamati, karena hanya merupakan titik akhir teoritis atau titik akhir stoikiometri. Hal ini diatasi dengan pemberian indicator asam-basa yang membantu sehingga titik akhir titrasi merupakan keadaan dimana perubahan satu tetes zat penitrasi (titran) akan menyebabkan perubahan warna indicator (Anonim, 2010).

Untuk menentukan konsentrasi suatu larutan dapat dilakukan dengan titrasi, yaitu dengan menambahkan tetes demi tetes larutan standar kedalam larutan yang akan ditentukan konsentrasinya. Pada saat banyaknya zat penitrasi sebanding/setara dengan zat yang ditetapkan konsentrasi disebut titik ekivalen atau titik akhir titrasi yang ditunjukkan oleh perubahan warna indicator. Suatu analisis yang berikatan dengan volume larutan pereaksi disebut analisis volumetri. Analisis volumetri dilakukan melalui metode titrasi. Salah satu larutan ditempatkan dalam buret yang merupakan larutan penitrasi. Larutan yang satu lagi ditempatkan dalam labu titrasi/erlenmayer yang merupakan larutan yang dititrasi (Ahmad, 2001: 19).

Jika asam atau basa kuat bereaksi satu sama lain dengan basa lemah atau asam lemah. Pada dasarnya terjadi reaksi kuantitatif irreversible. Apabila kita mentitrasi asam atau basa kuat (kuat atau lemah) yang tidak diketahui tetapi volumenya dapat diketahui dan dapat memakai persamaan berikut untuk menghitung konsentrasi pada zat yang tidak diketahui, dengan rumus:

M1.V1 = M2.V2

Normalitas (N) berhubungan dengan banyak ekuivalen asam (H+) dan basa (OH) perliter larutan. Kita dapat mengubah molaritas menjadi normalitas dengan menhitung banyaknya mol [H+] dan [OH-] yang dihasilkan untuk asam atau basa yang sosiasi, dimana didapat titik ekuivalensi yaitu titik pada titrasi (Bresnick, 2002: 69).

Larutan baku primer berfungsi untuk membakukan atau untuk memastikan konsentrasi larutan tertentu, yaitu larutan atau pereaksi yang ketetapan atau kepastian konsentrasinya sukar diperoleh melalui pembuatannya secara langsung. Larutan baku primer harus dibuat seteliti mungkin dan setepat mungkin (secara kuantitatif). Disamping larutan baku primer, dikenal juga larutan baku sekunder. Larutan ini kebakuannya (kepastian molaritasnya) ditetapkan langsung terhadap larutan baku primer. Jika suatu larutan baku sekunder bersifat stabil dan dikemas atau disimpan dengan benar, larutan ini dapat berfungsi sebagai larutan baku dan langsung dapat digunakan tanpa harus dibakukan lagi (Mulyono, 2006 : 124).

 

 

 

  1. ALAT DAN BAHAN PRAKTIKUM
    1. Alat

–          Buret 50 mL

–          Corong kaca

–          Erlenmayer

–          Gelas kimia 250

–          Gelas ukur 50 mL

–          Klem

–          Pipet tetes

–          Statif

  1. Bahan

–          Aquades

–          Indikator PP ( fenolftalein)

–          Larutan asam oksalat 0,05 M

–          Larutan HCl

–          Larutan NaOH

–          Tissue

  1. PROSEDUR PERCOBAAN
    1. Membuat Larutan Baku Primer Asam Oksalat 0,05 M

–          Ditimbang asam oksalat 6,3035 gram dengan teliti.

–          Dilarutkan dalam aquades dalam labu takar 1000 ml.

–          Dihitung konsentrasi dengan rumus :

M =

  1. Penentuan Konsentrasi NaOH dengan Larutan Baku Asam Oksalat

–          Buret dibilas dengan NaOH 3x@5mL.

–          Diisi buret dengan NaOH 30 mL.

–          Diisi erlenmayer dengan 20 mL larutan baku asam oksalat.

–          Ditambahkan 4 tetes indikator PP.

–          Diteteskan NaOH di dalam buret ke dalam larutan baku asam oksalat dengan hati-hati sampai terjadi perubahan warna.

–          Dicatat banyaknya NaOH yang digunakan (selisih antara keadaan akhir dengan keadaan awal buret).

  1. Penetuan Konsentrari Larutan HCl dengan larutan NaOH

–          Diisi buret dengan NaOH.

–          Diisi erlenmayer dengan 20 mL larutan HCl.

–          Ditambahkan 4 tetes indikator PP.

–          Diteteskan NaOH di dalam buret ke dalam larutan HCl dengan hati-hati sampai terjadi perubahan warna.

–          Dicatat banyaknya NaOH yang digunakan (selisih antara keadaan akhir dengan keaadaan awal buret).

  1. HASIL PENGAMATAN

(Terlampir).

  1. ANALISIS DATA
    1. Persamaan Reaksi

–          (COOH)2 (aq) + 2NaOH (aq)                (COONa)2 (aq) + 2H2O (l)

–          HCl (aq) + NaOH (aq)                           NaCl (aq) + H2O (l)

  1. Perhitungan
    1. Menentukan Konsentrasi NaOH

Diketahui : Masam oksalat = 0,05 M

                   Vasam oksalat = 20 mL

                   Valensi asam oksalat = 2

                   VNaOH = 19 mL

                   Valensi NaOH = 1

Ditanyakan : MNaOH = …?

Jawab :

       Masam oksalat x Vasam oksalat x Valensi asam oksalat = MNaOH x VNaOH x Valensi NaOH

              0,05    x       20        x          2                            = MNaOH x 19 x 1

                                                                   2       = MNaOH 19

                                                                 MNaOH   =

                                                                            = 0,1 M

  1. Menentukan Konsentrasi HCl

Diketahui : MNaOH = 0,1 M

                   VNaOH  = 0,2 mL

                   Valensi NaOH = 1

                   VHCl = 20 mL

                   Valensi HCL = 1

Ditanyakan : MHCl = …?

Jawab :

       MNaOH x VNaOH  x Valensi NaOH = MHCl  x VHCl x Valensi HCL

         0,1    x   0,2   x     1             = MHCl  x 20 x 1

                                           0,02  = MHCl 20

                                           MHCl   =

                                                      = 0,001 M

  1. PEMBAHASAN

Titrasi adalah proses penentuan banyaknya suatu larutan dengan konsentrasi yang telah diketahui dan diperlukan untuk bereaksi secara lengkap dengan sejumlah contoh tertentu yang akan dianalisis. Prosedur analisis yang melibatkan titrasi dengan larutan-larutan yang konsentrasinya telah diketahui disebut analisis volumetri. Dalam analisis larutan asam-basa, titrasi melibatkan suatu basa yang saling menetralkan.

Pada percobaan asidimetri dan alkalimetri ini dilakukan dua percobaan. Percobaan pertama adalah asidimetri, yaitu menentukan konsentrasi larutan basa dengan menggunakan larutan baku primer asam sedangkan percobaan kedua adalah alkalimetri, yaitu menentukan konsentrasi larutan asam dengan menggunakan larutan baku basa. Namun, sebelum kita membahas lebih lanjut, hendaknya kita mengetahui terlebih dahulu pengertian asidemetri dan alkalimetri. Asidimetri adalah pengukuran konsentrasi basa, sedangkan alkalimetri merupakan pengukuran konsentrasi larutan asam dengan menggunakan larutan baku basa.

 

Pada percobaan pertama, yaitu menentukan konsentrasi larutan NaOH dengan menggunakan larutan baku primer asam oksalat 0,05 M. Larutan baku primer adalah suatu larutan yang telah diketahui konsentrasinya dan biasanya berupa asam atau basa yang mantap (konsentrasinya tidak cepat berubah). Sebelumnya buret yang akan digunakan dibilas dengan menggunakan larutan NaOH. Hal ini dilakukan agar sisa-sisa cairan tidak mempengaruhi hasil titrasi pada praktikum yang akan dilakukan. Adapun reaksi yang terjadi antara larutan NaOH dengan larutan asam oksalat adalah sebagai berikut :

2NaOH(aq) + (COOH)2.2H2O(aq) à (COONa)2(aq) + 4H2O(l)

Reaksi dari NaOH dan asam oksalat dapat diamati dengan menggunakan indikator fenolftalein sebagai indikator visual yang dapat menandakan terjadinya suatu reaksi sempurna yaitu ketika warna larutan yang semula bening berubah menjadi merah muda. Penggunaan indikator fenolftalein ini dikarenakan indikator ini merupakan indikator yang baik untuk menguji reaksi antara asam lemah (asam oksalat) dengan basa kuat (NaOH). Hal ini dipermudah karena indikator fenolftalein mempunyai interval pH dari 8-10 sebagai titik akhirnya yang mendekati titik ekuivalen antara larutan basa kuat dengan larutan asam lemah. Perubahan warna larutan saat titrasi terjadi akibat reaksi antara kedua larutan untuk mencapai titik akhirnya.

 Pada percobaan kedua, asidimetri, yaitu menentukan konsentrasi HCl dengan menggunakan larutan NaOH (larutan baku sekunder). Proses titrasi ini sama dengan proses titrasi larutan asam oksalat, yaitu dengan meneteskan larutan NaOH ke dalam larutan asam. Namun, perbedaannya disini adalah waktu yang diperlukan larutan HCl untuk berubah warna lebih cepat dibandingkan waktu yang diperlukan asam oksalat pada percobaan pertama. Hal ini disebabkan oleh dua hal yaitu, pertama, larutan HCl yang digunakan sebelumnya telah mengalami pengenceran. Pengenceran ini menyebabkan konsentrasi larutan HCl semakin berkurang sehingga pH asamnya pun semakin menurun. Ini menyebabkan larutan NaOH yang diperlukan untuk menitrasi larutan HCl lebih sedikit. Sehingga waktu yang diperlukan untuk berubah warnapun semakin cepat. Lain halnya dengan larutan asam oksalat yang masih pekat akan memerlukan lebih banyak larutan NaOH untuk mencapai titik akhirnya yaitu saat terjadi perubahan warna. Dengan lebih banyaknya larutan NaOH yang diperlukakan maka waktu yang diperlukan asam oksalat untuk berubah warnapun semakin lama. Faktor kedua yang menyebabkan perbedaan waktu dan volume NaOH saat titrasi ini adalah adanya perbedaan ekuivalen antara kedua larutan. Pada titrasi larutan HCl dengan larutan NaOH, 1 ekuivalen HCl bereaksi dengan 1 ekuivalen NaOH (valensi asam HCl = valensi basa NaOH = 1). Sementara pada titrasi larutan asam oksalat dengan larutan NaOH, 1 ekuivalen asam oksalat bereaksi dengan 2 ekuivalen NaOH, sehingga pada titrasi ini diperlukan volume NaOH yang dua kali lipat lebih banyak atau besar. Oleh karena itu, tercapainya titik akhir titrasi (pH pada saat indikator berubah warna) pada titrasi HCl dan NaOH lebih cepat dibandingkan titrasi asam oksalat dan NaOH.

Adapun reaksi yang terjadi antara larutan HCl dan larutan NaOH adalah reaksi penetralan sebagai berikut :

HCl(aq) + NaOH(aq) à NaCl(aq) + H2O(l)

Titik ekuivalen pada titrasi larutan HCl dan NaOH ini terjadi pada pH=7 (laruan bersifat netral). Titik akhir titrasi tercapai pada saat larutan berubah warna dari bening menjadi merah muda. Pada reaksi ini juga digunakan indikator fenolftalein untuk menentukan volume NaOH yang terpakai hingga tercapai titik akhir. Indicator ini juga sangat baik digunakan untuk mengamati proses titrasi pada larutan asam kuat (HCl) dengan larutan basa kuat (NaOH).

Berdasarkan analisis data, diperoleh konsentrasi larutan NaOH sebesar 0,105 M melalui titrasi pada percobaan pertama. Pada percobaan pertama volume NaOH yang digunakan adalah sebanyak 19 ml. Ini menunjukkan jumlah NaOH yang diperlukan pada percobaan pertama lebih banyak dibandingkan pada percobaan kedua yang hanya memerlukan larutan NaOH sebanyak 0,2 ml. Pada percobaan kedua diperoleh konsentrasi larutan HCl setelah diencerkan. Sehingga volume NaOH yang diperlukan lebih sedikit dibandingkan sebelum pengenceran.

 

  1. KESIMPULAN
    1. Konsentrasi NaOH yang didapat menggunakan larutan baku primer asam oksalat adalah 0,105 M.
    2. Konsentrasi HCl yang didapat menggunakan larutan NaOH adalah 0,00105 M.

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: