asmitagari

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site

ACARA I
PEMISAHAN DAN PEMURNIAN
PELAKSANAAN PRAKTIKUM
Tujuan Praktikum : Untuk mempelajari teknik pemisahan dan pemurnian suatu zat dari campurannya.
Waktu Praktikum : Sabtu, 22 Oktober 2011
Tempat Praktikum : Laboratorium Kimia Dasar, Lantai III, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Mataram.

LANDASAN TEORI
Ada berbagai cara yang dapat dugunakan untuk memisahkan suatu zat dari campurannya, yaitu cara destilasi, ekstraksi pelarut dan resin penukar ion. Destilasi adalah proses perubahan fasa cair menjadi fasa uap atau gas dengan pendidihan, kemudian gas tersebut mengembun akibat pendinginan. Dasar penting dalam destilasi adalah tekanan uap, yaitu suatu sifat fisika dari zat cair yang bergantung pada suhu. Ekstraksi pelarut yaitu proses pemisahan dengan menggunakan minimal dua pelarut yang tidak saling bercampur (Suhendra, 2007:1-3).
Dasar pemisahan dengan destilasi adalah perbedaan titik didih dua campuran atau lebih. Jika campuran dipanaskan, maka komponen yang titik didihnya lebih rendah akan menguap terlebih dahulu. Dengan mengatur suhu secara cermat, maka kita dapat menguapkan dan kemudian mengembunkan komponen demi komponen secara bertahap.Pengembunan terjadi dengan mengalirkan uap ke tabung pendingin.Bila campuran mengandung komponen lebih dari dua, maka penguapan dan pengembunan dilakukan bertahap sesuai dengan jumlah komponen itu, dimulai dari titik didihnya yang paling rendah. Akan tetapi pemisahan campuran ini sulit dan biasanya hasil yang didapat sedikit tercampur komponen lain yang titik didihnya berdekatan ( Syukri, 1999:16).
Pada proses destilasi yang sederhana dapat dicontohkan dalam pemisahan natrium klorida dan air misalnya. Maka disini solven yang mudah menguap dari suatu larutan, kemudian dikondisikan untuk mendapat cairan murni. Bila proses ini dilanjutkan, akhirnya semua solven dihilangkan sehingga hanya tinggal solute padatnya saja. Suatu cara yang digunakan untuk mendapatkan hasil yang lebih baik disebut destilasi bertingkat (James, 2000:68).
Untuk menganalisa komposisi dari suatu sampel yang dianggap sebagai suatu campuran, maka harus memisahkan/membagi komponen-komponennya dan mengidentifikasi zat tunggal yang muncul. Cara filtrasi digunakan ketika zat-zat penyusunnya/campuran filtrasi memiliki perbedaan dalam daya kelarutan (solubility). Zat-zat sampel akan memisah dari campuran (pelarut) dan selanjutnya mengalir melalui suatu saluran halus, yaitu filter. Zat yang dapat larut, dilarutkan dalam air dan difilter. Cara ini bisa digunakan untuk memisahkan gula dari pasir. Karena gula pasir dapat larut dalam air, sedangkan pasir tidak dapat larut dalam air (Atkins dan Jones, 1997:23-25).

ALAT DAN BAHAN
Alat-alat praktikum
Alat Sentrifugasi
Corong
Erlenmeyer 100 mL
Erlenmeyer 250 mL
Gelas arloji
Gelas kimia 50 mL
Gelas kimia 250 ml
Gelas ukur 50 mL
Neraca analitik
Pemanasa listrik
Pipet tetes
Spatula
Stopwatch
Tabung reaksi
Tissue
Satu set alat destilasi

Bahan-Bahan Praktikum
Air (H2O)
Aquades
Alkohol 96 %
Batu didih
Bubuk kapur
Garam dapur (NaCl)
Iodium
Kertas saring
Kloroform (CHCl3
Tembaga sulfat

PROSEDUR PERCOBAAN
Dimasukkan 2 atau 3 sendok bubuk kapur ke dalam gelas kimia yang berisi ± 25 mL, diaduk. Dituangkan sebagian isi (± 5 mL) ke dalam tabung reaksi, lalu disentrifuge. Dipisahkan sentrat dari endapannya dengan cara dekantasi. Bagian isi lainnya dalam gelas kimia disaring, ditampung filtrasinya, dibandingkan filtrat dengan sentrat.
Dilarutkan garam dapur yang kotor dengan air sedikit mungkin, saring dan filtratnya diuapkan dengan pemanas listrik sampai kering. Dibandingkan garam sebelum dan sesudah proses.
Proses rekristalisasi: Dilarutkan 1 gram tembaga sulfat ke dalam 25 mL air. Ditambahkan batu didih dan diuapkan hingga kering. Dibandingkan tembaga sulfat sebelum dan sesudah reaksi
Dimasukkan sebutir kecil iodium ke dalam tabung yang berisi 5 mL air, dikocok dan diperhatikan warna larutan. Diambil 1 mL CHCl3(kloroform). Diperhatikan warnanya, lalu dimasukkan ke dalam larutan Iodium. Diamati, dikocok dengan cara membenturkan dasar tabung dengan telapak tangan dan warnanya diamati.
Dipasang set alat destilasi biasa seperti pada gambar. Kemudian dimasukkan 5 ml air ke dalam 115 ml alkohol, lalu campuran tersebut didestilasi hingga suhu mencapai antara 85-95 0C.

HASIL PENGAMATAN
No. Prosedur Percobaan Hasil Pengamatan
1. Kedalam gelas kimia yang telah diisi ±25 mL aquadest, dimasukkan 2 atau 3 sendok bubuk kapur lalu diaduk. Sebagaian isi (±5 mL) dituangkan kedalam tabung sentrifuga atau tabung reaksi. Sentrat dipisahkan dari endapan dengan cara dekantasi. Bagian isi lainnya dalam gelas kimia disaring, filtratnya ditampung. Filtrat dan sentrat dibandingkan. Warna awal bubu kapur putih
Setelah difiltrasi warnanya bening
Setelah di sentrifugasi warnanya keruh
2. Garam dapur yang kotor dilarutkan dengan aquadest sedikit mungkin. Kamudian disaring dan filtratnya diuapkan (dalam cawan penguap) sampai kering. Singkirkan pembakar dan biarkan semua air menguap. Garam sebelum dan sesudah proses dibandingkan. Garam awal: kasar, kotor dan butirannya besar
Garam akhir (kristalisasi): putih, bersih, lebih lembut dan butirannya kecil (halus)
3. Proses rekristalisasi : 1 gram tembaga (II) sulfat dilarutkan dengan aquadest hingga larut. Saring bila diperlukan. Kedalam larutan ditambahkan batu didih dan diuapkan hingga kering. Singkirkan api dan biarkan dingin tanpa digoyang. Warna 〖CuSO〗_4 sebelum dipanaskan lebih biru dibandingkan dengan yang sudah dipanaskan warnanya menjadi biru keputihan dan butiran-butiran menjadi lebih halus dan jumlahnya berkurang
4. Sebutir kecil iodium dimasukkan kedalam tabung reaksi yang diisi aquadest sabnyak 5 mL, dikocok dan warna larutan diamati. Beberapa tetes kloroform diambil, diamati warnanya, lalu dimasukkan kedalam larutan iodium. Diamati, kemudian dikocok dengan membenturkan dasar tabung dengan telapak tangan, diamati. Warna butiran iodium : Abu
Aquadest + iodium : berubah menjadi orange dan iodium tetap berbentuk butiran
Aquadest + iodium + CHCl3 : iodin menjadi cair dan warnanya berubah menjadi hitam keunguan.
5. Alat destilasi biasa dipasang. Kemudian 15 mL etanol 96% dicampur dengan 5mL aquadest kemudian dimasukkan kedalam labu destilasi. Labu dipanaskan hingga suhu 80º – 95º C. Etanol = 15 mL
Aquadest = 5 mL
Warna sebelum dicampur sama-sama bening
Setelah etanol dan aquadest dicampur warnanya keruh
Pemanasan dari 80 ^oC-95 ^oC volume alcohol setelah didestilasai = 7 mL

ANALISIS DATA
Gambar alat destilasi

Keterangan :
Pemanas : Untuk memanaskan larutan.
Labu alas bundar : Sebagai wadah larutan yang akan didestilasi.
Termometer : Untuk mengukur suhu.
Kondensor : Sebagai pendingin uap yang dihasilkan dari hasil pemanas.
Selang keluar : Sebagai tempat aliran air yang keluar.
Selang masuk : Sebagai tempat aliran ait yang masuk.
Erlenmayer : Sebagai wadah penampung hasil destilasi.
Tiang statif : Sebagai penyangga labu alas bundar.

Perhitungani
V etanol = 15 mL = 0,015 L
V aquades = 5 mL = 0,005 L
V destilat = 7 mL = 0,007 L
V campuran = 20 mL = 0,020 L
V etanol murni = V etanol awal x % alkohol
= 15 x96/100
= 14,4 mL
= 0,0144 L
V campuran = V alkohol awal + V aquades
= 15 + 5
= 20 mL
= 0,020 L
V etanol dalam campuran = (V etanol murni)/(V campuran)
= 0,0144/0,02
= 72 %
% alkohol setelah destilasi
% = (v destilasi)/(v alkohol murni)
= 0,007/0,0144 x 100%
= 48,61 %

PEMBAHASAN
Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk memisahkan dan memurnikan suatu zat dari campurannya, diantaranya adalah dengan cara destilasi, sentrifuga dan penyaringan.
Pada percobaan pertama, kapur yang telah dilarutkan kedalam air mengalami dua perlakuan, yang pertama disentrifugasi, kemudian yang kedua difiltrasi. Dari hasil percobaan tersebut, diperoleh hasil filtrasi yang berupa filtrate. Setelah dibandingkan, didapatkan hasil filtrate yang lebih jernih daripada sentrat yang diperoleh dari hasil sentrafugasi dan dekantasi.
Dalam teori seharusnya sentrat lebih jernih dibandingkan filtrate. Hal itu disebabkan karena pada proses sentrifugasi akan terbentuk endapan dan sentrat kemudian dipisahkan secara dekantasi (sentrat dituangkan kedalam tabung reaksi lain sedikit demi sedikit dan endapan tidak boleh ikut tertuang kedalam tabung itu), sedangkan pada proses filtrasi, endapan dipisahkan dengan menggunakan kertas saring yang memiliki pori-pori kecil sehingga larutan yang partikelnya lebih kecil dari ukuran pori-pori kertas saring itu dapat lolos dan filtrate yang dihasilkan tidak terlalu jernih. Ada kemungkinan dalam percobaan ini terdapat kesalahan saat proses dekantasi sehingga ada endapan yang ikut tertuang kedalam tabung yang berisi sentrat dan hasilnya kurang jernih, jika dibandingkan dengan filtrate.
Pada percobaan kedua dilakukan pencampuran garam dengan sedikit air, kemudian dipanaskan sampai mendidih. Setelah mendidih, larutan garam itu menguap. Setelah penguapan, larutan garam itu menghasilkan filtrate berupa kristal garam. Namun kristal garam yang dihasilkan lebih halus dan lebih bersih. Hal itu disebabkan karena sebelum dipanaskan, garam tersebut dilarutkan dengan sedikit air.
Pada proses rekristalisasi yaitu pada percobaan ketiga, digunakan tembaga sulfat (CuSO4) dan dilarutkan dalam air sehingga berwarna biru dan hasil butirannya lebih halus. Sebelum dipanaskan tembaga sulfat yang telah dilarutkan didalam air ditambahkan dengan batu didih secukupnya untuk menghindari letupan dan pemerataan tekanan pada saat pemanasan. Kristal yang dihasilkan warnanya lebih muda dan lebih halus karena telah dilarutkan terlebih dahulu.
Pada percobaan keempat, yaitu ekstraksi pelarut sebutir iodium dimasukkan kedalam air, larutannya berubah menjadi orange. Kemudian setelah ditetesi kloroform yang merupakan pelarut, tidak bercampur dengan campuran iodium dan air tadi sehingga dihasilkan cairan yang berwarna hitam keunguan dibagian bawah dan cairan bening diatasnya. Cairan hitam keunguan tersebut merupakan iodium yang memisah karena ditambahkan kloroform yang mengandung atom karbon dan dapat melarutkan iodine. Hal ini membuktikan CHCl3 (kloroform) tidak larut dalam Iodium dan terjadi perbedaan massa jenis. Dalam hal ini zat yang berwarna hitam keunguan memiliki massa jenis yang lebih besar dari pada zat yang berwarna orange.
Percobaan kelima dilakukan destilasi. Campuran 5 ml aquades dan 15 ml etanol kemudian dipanaskan sampai mendidih pada suhu 95ᵒC. Setetes demi setetes alcohol yang telah tercampur dengan air mengembun akibat pendinginan. Alcohol yang terpisah ini disebut destilat dan merupakan alcohol murni karena dapat diperoleh jika cairan yang sukar menguap mempunyai tekanan uap yang lebih kecil sehingga dapat diabaikan. Destilat yang dihasilkan dalam proses destilasi tersebut sebanyak 7 ml.

PENUTUP
1. Kesimpulan
– Ada berbagai cara untuk melakukan pemisahan suatu zat dari campurannya antara lain:
filtrasi, sentrifugasi, rekristalisasi, ekstraksi pelarut dan destilasi.
2. Saran
– Praktikan harus memahami prosedur kerja
– Praktikan harus berhati-hati menggunakan alat praktikum karena alat-alat tersebut
kebanyakan terbuat dari kaca dan mudah pecah.
– Alat-alat yang ada di laboraturium sebaiknya ditambah agar kami tidak mengantri
dengan kelompok lain untuk bergiliran memakainya sehingga waktu terbuang percuma.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: