asmitagari

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site

ACARA VII KOLOID…

ACARA VII

KOLOID DAN SENYAWA KARBON I

  1. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
    1. Tujuan Praktikum:

–          Untuk mempelajari cara pembuatan koloid dengan cara dispersi.

–          Untuk mengetahui cara pembuatan koloid dengan cara kondensasi.

–          Untuk mengetahui jenis-jenis koloid (emulsi).

–          Untuk mengetahui sifat adsorpsi koloid.

–          Untuk mengetahui cara pembuatan sabun.

–          Untuk mempelajari denaturasi protein.

  1. Waktu Praktikum:

Kamis, 29 Maret 2012

  1. Tempat Praktikum:

Laboratorium Kimia Dasar, lantai III, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Mataram.

 

  1. LANDASAN TEORI

Koloid adalah dispersi zat dengan ukuran partikel terdispersi 10-7 sampai 10-5 cm. Sehingga dengan mata biasa akan terlihat homogen, tetapi dengan menggunakan mikroskop terlihat heterogen dan dapat disaring dengan penyaring ultra (Sutresno, 2004:160).

Karbohidrat berasal dari kata karbon dan hidrat (air) karena memiliki rumus empiris Cn(H2O)n, seperti glukosa (C6H12O6) dan sukrosa (C12H10O4). Unit terkecil karbohidrat disebut monosakarida, yaitu karbohidrat yang tidak dapat dihidrolisis menjadi karbohidrat yang lebih sederhana. Ada 4 macam disakarida yaitu sukrosa, laktosa, maltosa dan selobasa. Polisakarida ialah polimer hasil kondensasi dari beberapa monosakarida yang terdiri dari 2 emilosa dan selulosa (Fransial, 2004:161).

Dalam campuran homogen dan stabil yang disebut larutan, molekul, atom, ataupun ion disebarkan dalam suatu zat kedua. Dengan cara yang agak mirip, materi koloid dapat dihamburkan atau disebarkan dalam suatu medium sinambung, sehingga dihasilkan suatu disperse (sebaran) koloid atau sistem koloid. Selai, mayones, tinta cina, susu, dan kabut merupakan contoh koloid yang dikenal. Dalam sistem-sistem semacam itu, partikel koloid dirujuk sebagai zat terdispersi (tersebar) dan materi kontinu dalam mana partikel itu tersebar disebut zat pendispersi atau medium pendispersi (Arsyad, 2001:21).

Nilai pH basa disebabkan adanya kandungan surfaktan dengan konsentrasi tinggi di dalam limbah. Konsentrasi suspended solid yang tinggi terutama disebabkan adanya keberadaan mikroorganisme dan hasil dari pemotongan logam yang menyebabkan adanya partikel-partikel logam yang terkikis yang ikut ke dalam limbah, dan juga menyebabkan konduktivitas tinggi sebagai akibat dari logam-logam terlarut (Notodarmojo, 2004:53).

 

  1. ALAT DAN BAHAN PRAKTIKUM
    1. Alat-alat Praktikum:
      1. Bunsen
      2. Corong
      3. Corong
      4. Gelas kimia 250 ml
      5. Gelas kimia 50 ml
      6. Gelas ukur 100 ml
      7. Gelas ukur 50 ml
      8. Korek
      9. Mortar
      10. Pengaduk
      11. Penggerus
      12. Penjepit
      13. Pipet tetes
      14. Pipet volum 5 ml
      15. Rak tabung reaksi
      16. Rubber bulb
      17. Sendok
      18. Spatula
      19. Stopwatch
      20. Tabung reaksi
  2. Bahan-bahan Praktikum:
    1. Air kran
    2. Aquades
    3. Detergen
    4. Garam dapur
    5. Gula pasir
    6. Kertas lakmus
    7. Kertas saring
    8. Larutan Benzena
    9. Larutan CaCl2
    10. Larutan CuSO4 1
    11. Larutan Etanol
    12. Larutan FeCl3
    13. Larutan HgCl2 1%
    14. Larutan HNO3 pekat
    15. Larutan Iodine
    16. Larutan NaCl jenuh
    17. Larutan NaOH 40
    18. Larutan NaOH 6M
    19. Larutan Na-oleat (minyak kelapa)
    20. Larutan Pb asetat
    21. Norit
    22. Putih telur
    23. Tepung kanji
    24. Tissue

 

  1. PROSEDUR PERCOBAAN
  2. Pembuatan Koloid

–  Dimasukkan kira-kira 1,5 gram As2S3 ke dalam labu Erlenmeyer yang berisi 100 ml air.

–  Dipanaskan campuran sampai mendidih, didinginkan sampai suhu kamar, lalu larutan di dekantasi.

–  Dimasukkan 250 ml aquades kemudian di jenuhkan dengan H­2S di dalam labu Erlenmeyer yang lain.

–  Ditambahkan arsen perlahan-lahan setelah larutan jenuh sementara H­2S dialirkan.

–  Disimpan larutan untuk percobaan II.

v     Koloid Fe(OH)3

–            Dipanaskan samapai mendidih 50 mL air dalam bejana gelas.

–            Ditambhakan setetes demi setetes larutan FeCl3 jenuh sambil diaduk sampai merah coklat.

–            Disimpan larutan ini untuk percobaan II.

  1. Dispersi

–            Diambil satu sendok amylum dan dicampurakan dengan 10 ml air dalam gelas kimia.

–            Diaduk dengan spatula dan disaring (Filtrat A).

–            Diambil pula satu sendok amylum dan digerus dalam mortar dengan 10 ml air dan kemudian campuran disaring (Filtrat B).

–            Dibandingkan filtrat A dan filtrat B, kemudian filtrat B ditambahkan beberapa tetes iodium.

  1. Emulsi

–            Di dalam suatu tabung reaksi yang bersih, dimasukkan 1 ml benzena, ditambahkan 10 ml aquades, dan dikocok dengan keras, dan diamati.

–            Diletakkan ntabung reaksi itu pada rak, dan diperhatikan waktu yang diperlukan untuk pemisahan kedua zat cair menjadi dua lapisan.

–            Ditambhakan 15 tetes larutan Na-oleat ke dalam campuran larutan benzena dan aquades, dikocok dan didiamkan 10-15 menit.

  1. Adsorpsi

–            Dilarutkan 1 sendok porselin gula pasir ke dalam 10 ml air dalam suatu tabung reaksi.

–            Ditambahkan setengah sendok norit dan diletakkan tabung reaksi ke dalam bejana gelas yang berisi air panas.

–            Dikocok tabung reaksi berkali-kali selama 10 menit, disaring isinya ke dalam sutau tabung reaksi lain yang bersih.

–            Dibandingkan warna akhir dengan warnalarutan sebelumnya.

  1. Lemak (Penyabunan dan pembuatan sabun)

v  Diperiksa larutan sabun denan kertas lakmus.

–            Dimasukkan 50 ml NaOH 40 % ke dalam gelas kimia.

–            Dimasukkan 5 ml Na-oleat dan 5 mL etil alkohol

–            Dipanaskan dengan hati-hati sambil terus diaduk.

–            Diteruskan pemanasan samapai 15 menit, jika air dan alcohol telah menguap dan isi gelas kimia telah padat, ditambahkan air.

–            Didinginkan dan ditambahkan 40 ml larutan NaCl jenuh, kemudian disaring dan dibilas dengan air dingin.

–            Jika masih lengket, ditambhakan lagi alcohol dan larutan NaOH lalu dipanaskan.

v  Dibuat larutan sabun dengan melarutkan setengah dari sabun yang diperoleh dalam 100 ml aquades.

–            Ditambahkan 5 ml CaCl2, dikocok dan dicatat perubahannya.

v  Dilarutkan 1 gram detergen dalam 10 ml air.

–            Ditambahkan 2-3 tetes larutan ini ke dalam 10 ml dari:

  • Aquades yang mengandung beberapa tetes larutan CaCl2.
  • Air kran.
  • Aquades.

–            Dicatat perubahan yang terjadi.

  1. Protein

–            Dimasukkan 2 ml putih telur dan ditambahkan 12 ml air, diaduk dengan baik.

–            Ditambahkan sedikit garam apabila larutan yang terjadi tidak bening.

–            Disediakan 5 tabung reaksi dan dimasukkan ke dalamnya masing-masing 2 ml larutan putih telur yang telah dibuat.

–            Dilakukan percobaan berikut:

  • Ditambhakan 1 ml larutan CuSO4 1 % dan diteteskan ke dalamnya larutan NaOH 6 M pada tabung pertama.
  • Ditabung kedua ditambhakna 1 ml larutan HNO3 pekat. Dipanaskan dan setelah dingin ditambahkan NaOH 6 Msambil dikocok.
  • Ditabung ketiga ditambhakan 1 ml HgCl­2 1 %.
  • Ditabung keempat ditambahkan 1 ml NaOH 6 M. Dipanaskan dan dicium uap yang keluar serta diperiksa uapnya dengan selembar kertas lakmus yang basah.
  • Ditabung kelima ditambhakna beberapa tetes Pb(OAc)2 dan 1 ml NaOH  6 M dan dipanaskan.
  1. HASIL PENGAMATAN

(Terlampir).

  1. ANALISIS DATA

Persamaan reaksi:

  1. Pembuatan koloid Fe(OH)3

FeCl3(aq) + 3H2O(l)→ Fe(OH)3(s) + 3HCl(aq)

 

 

2.   Lemak ( pembuatan sabun )

  • ( C17H35COO)3C3H3 + 3 NaOH                      3C13H35COONa + C3H3(OH)3
  • ( RCO2 )C3H5  + 3 NaOH                              3CONa + C3H5( OH )3

                  Secara keseluruhan

                         O

CH2       O        C        (CH2 )16 CH3

                          O                                                     CH2OH

CH2       O        C      (CH2 )16CH3 + 3 NaOH          CHOH + 3CH3 ( CH2 )16 COO+ Na+

                      O                                                    CH2OH

CH2       O       C       (CH2)16CH3

                 ( lemak )                                                ( gliserol )                 ( sabun )

Ditambahkan CaCl2

2CH3       ( CH2 )16         COONa + Ca2+          CH3         (CH2)16       COO2Ca + 2Na+ + Ca

3. Protein

  • Penambahan CuSO4 1% : CuSO4       CH     COOH         CuSO4      CH      COO

 

       
     
   
 

 

 

 

                                                    NH                                       NH3      

  • Penambahan HNO3       : HNO3        CH     COOH          HNO3      CH      COO

 

       
       

 

 

 

                                                 NH                                        NH3      

  • Penambahan HgCl2       : HgCl2            CH     COOH          HgCl2       CH      COO

 

       
     
   
 

 

 

 

                                                   NH                                       NH3      

  • Penambhan NaOH         : NaOH      CH     COOH          NaOH      CH      COO

 

 
   

 

 

 

                                                NH                                         NH3      

  • Penambahan Pb(OAc)2 : Pb(OAc)2         CH     COOH          NaOH      CH      COO

 

       
     
   
 

 

 

 

                                                    NH                                       NH3     

 

 

  1. PEMBAHASAN

 

Pada praktikum kali ini, yaitu koloid dan senyawa karbon 1, dilakukakan 6 rangkaian percobaan, yaitu pembuatan koloid, disperse, emulsi, adsorpsi, lemak dan protein.

 Percoobaan pertama yaitu pembuatan koloid Fe(OH)3. Pada percobaan ini, dilakukan dengan kondensasi melalui reaksi hidrolisis. Reaksi hidrolisis adalah reaksi suatu zat dengan air. Fe(OH)3 dibuat dari hidrolisis FeCl3. Reaksi tersebut  terjadi karena apabila ke dalam air mendidih ditambahkan dengan larutan FeCl3, maka akan terbentuk sol Fe(OH)3. Sol merupakan suatu sistem koloid yang terjadi jika partikel zat padat terdispersi di dalam zat cair. Air yang digunakan dalam percobaan ini menggunakan air yang mendidih karena dengan adanya suhu yang tinggi maka reaksi akan berlangsung lebih cepat sehingga partikel-partikel dalam senyawa FeCl3 akan lebih mudah terdispersi oleh air dan hidrolisis FeCl3-pun semakin cepat. Pada tetesan pertama, air yang mula-mula berwarna bening menjadi orange, pada tetesan kedua juga terjadi perubahan warna sehingga berwarna coklat. Dan pada tetesan ketiga warna berubah menjadi merah coklat yang menandakan sudah terbentuknya sol Fe(OH)3. Reaksi yang terjadi pada percobaan ini dapat ditulis sebagai berikut:

FeCl3 (aq) + 3H2O (l)                     Fe(OH)3 (s) + 3 HCl (aq)

 

Percobaan kedua yaitu dispersi. Dispersi merupakan salah satu cara untuk membuat sistem koloid. Dispersi adalah pemecahan partikel-partikel yang berukuran lebih besar dari koloid menjadi partikel-partikel yang berukuran koloid. Salah satunya yaitu dengan cara mekanik (penggerusan). Dari percobaan ini diperoleh dua filtrat. Filtrat A adalah filtrat yang diperoleh dari penyaringan larutan tepung kanji yang tidak digerus. Larutan ini menghasilkan warna yang agak keruh. Sedangkan filtrat B adalah filtrat yang diperoleh dari penyaringan larutan tepung kanji yang telah digerus sebelumnya. Setelah dibandingkan filtrat B lebih bening dibandingkan filtrat A. tetapi setelah ditetesi larutan iod pada filtrat B, filtrat B menjadi lebih keruh dibandingkan filtrat A. Filtrat B menjadi berwarna ungu setelah ditetesi larutan iod. Hal tersebut terjadi karena terdapat adanya susunan dari pati yang bernama amilopektin (tidak dapat larut dalam air panas) yang jika ditambah dengan larutan yodium akan berubah menjadi ungu. Larutan iod itu sendiri memiliki beberapa kegunaan dalam kehidupan sehari-hari, antara lain digunakan sebagai bahan antiseptic untuk luka, dapat menjadi pati dan dapat menguji ketidakjenuhan suatu sampel. Pada saat proses penyaringan, proses penyaringan filtrat A lebih cepat dari filtrat B. Hal tersebut terjadi karena perbedaan ukuran partikel antara filtrat A dan filtrat B, karena sebelumnya, tepung kanji pada filtat B tersebut telah digerus terlebih dahulu. Pada filtrat A, partikel-partikel tidak berikatan dengan air, sehingga larutan menjadi keruh, sedangkan pada filtrat B partikel-partikel tersebut dapat berikatan dengan air.

Percobaan ketiga yaitu emulsi. Emulsi adalah campuran antara dua fase, zat terdispersi dan medium pendispersi. Pembuatan emulsi minyak dengan air diperoleh dengan cara mencampurkan air, benzena, dan minyak lalu dikocok dengan keras. Emulsi yang terjadi pada proses ini disebut dengan emulsi cair. Emulsi cair melibatkan dua zat cair yang tercampur tetapi tidak dapat saling melarutkan atau dapat juga disebut zat cair polar dan zat cair nonpolar. Dalam hal ini zat cair polarnya adalah air dan zat cair nonpolarnya adalah minyak, sedangkan benzena berperan sebagai emulgator. Emulgator merupakan komponen yang penting untuk memperoleh emulsi yang stabil. Dalam proses ini, air dan minyak dapat bercampur membantuk suatu emulsi cair karena adanya suatu pengemulsi (emulgator) yang ditambahkan dalam larutan tersebut. Benzena merupakan salah satu pengemulsi yang memiliki gugus polar dan nonpolar. Bagian nonpolar akan berinteraksi dengan minyak/mengelilingi partikel minyak, sedangkan bagian yang polar akan mencoba berinteraksi dengan air melalui pengocokan. Apabila bagian polar ini terionisasi menjadi bermuatan negatif, maka partikel-partikel minyak juga akan bermuatan negatif. Muatan tersebut  akan mengakibatkan partikel-partikel minyak saling tolak-menolak dan tidak akan bergabung, sehingga emulsi menjadi stabil. Bila dua larutan murni yang tidak saling campur atau larut seperti minyak dengan air ini dicampurkan lalu dikocok kuat-kuat, maka keduanya akan membentuk sistem dispersi yang disebut emulsi yang secara fisik terlihat seolah-olah satu frasa berada di dalam fasa yang lainnya. Apabila proses pengocokan dihentikan, maka dengan sangat cepat terjadi pemisahan kembali, sehingga kondisi emulsi yang sesungguhnya muncul dan teramati pada sistem dispersi terjadi dalam waktu yang sangat singkat. Sedangkan penjelasan mengenai mengapa larutan minyak dan benzena terletak pada lapisan atas (di atas air), itu terjadi karena massa jenis air lebih besar dari massa jenis minyak maupun benzena sehingga terlihat seperti mengapung di atas air.

Pada percobaan keempat yaitu adsorpsi. Dimana adsorpsi adalah salah satu sifat koloid yang menyerap ion pada permukaan partikel-partikel koloid. Pada percobaan ini terjadi reaksi adsorpsi (aktif permukaan) antara partikel gula dengan air. Ketika partikel-partikel gula dimasukkan atau ditempatkan di dalam air, maka partikel air tersebut akan terakumulasi atau diserap oleh partikel gula pada permukaan zat dan akhirnya akan membentuk suattu lapisan tipis atau film (zat terserap, adsorbat) pada permukaannya. Partikel koloid sol memiliki kemampuan untuk mengadsorpsi partikel pendispersi pada permukaannya. Daya adsorpsi partikel koloid (dalam hal ini partikkel gula) tergolong besar karena partikelnya mampu memberikan sesuatu permukaan yang luas. Pada tahap selanjutnya, yaitu pemberian norit yang dilanjutkan dengan proses pengocokan pada bejana gelas yang berisi air mendidih diperoleh hasil bahwa norit dapat larut dalam campuran tersebut namun lama-kelamaan terbentuk suatu pengendapan dan setelah disaring, filtrat yang terbentuk terlihat sangat bening yang sebelumnya keruh. Hal tersebut terjadi karena fungsi norit pada percobaan ini adalah sebagai absorber yaitu menyerap warna sehingga warna larutan yang diberi norit dapat menjadi lebih jernih. Sedangkan penggunaan air mendidih dalam proses ini sama seperti percobaan pertama yaitu untuk mempercepat terjadinya suatu reaksi (semakin tinggi suhu maka reaksi akan semakin cepat reaksi berlangsung).

Pada percobaan kelima yaitu lemak (reaksi penyabunan dan pembuatan sabun) ini dilakukan empat tahap percobaan. Percobaan pertama yang dilakukan pada reaksi penyabunan ini adalah menentukan apakah larutan sabun itu bersifat asam atau basa dan ternyata setelah diuji menggunakan kertas lakmus, warna kertas lakmus yang semula merah berubah menjadi warna biru setelah dicelupkan ke dalam larutan tersebut. Hal itu menunjukkan bahwa larutan sabun bersifat basa. Pada tahap kedua dilakukan pembuatan sabun dengan mencampurkan NaOH 40%, minyak kelapa dengan etil alkohol. Minyak kelapa dan senyawa alkali (basa) yang dalam hal ini adalah NaOH 40% merupakan komponen utama dalam pembuatan sabun. Minyak kelapa dan senyawa alkali (basa) yang dalam hal ini adalah NaOH merupakan senyawa alkali yang bersifat basa dan mampu menetralisir asam di dalam pembuatan sabun ini. Penggunaan etil alkohol dalam pembuatan sabun berfungsi sebagai pelarut pada proses pembuatan sabun transparan karena sifatnya yang mudah larut dalam air dan lemak.

Proses selanjutnya dilakukan proses pemanasan (penguapan). Ketiga campuran tersebut dipanaskan sambil diaduk terus agar pencampurannya merata. Pada saat pemanasan, terlihat adanya serabut-serabut halus akibat pemanasan minyak (lemak) yang akhirnya tercampur merata dan mulai menggumpal. Bau yang keluar saat pemanasan lebih menyengat karena terjadinya suatu penguapan etanol. Sedangkan warna putih kekuning-kuningan yang dihasilkan merupakan bentuk reaksi yang terjadi akibat penambahan etanol tersebut sesuai dengan penjelasan sebelumnya. Hal ini berarti bahwa minyak, etanol, dan NaOH mengalami reaksi safonifikasi (reaksi penyabunan). Setelah ditambahkan 40 ml NaCl jenuh, perubahan yang terjadi adalahadanya gumpalan-gumpalan yang melarut dan terjadi busa. Penambahan NaCl ini berguna untuk memisahkan sabun dari gliserolnya, sehingga akan membentuk larutan yang berupa larutan koloid. Memisahnya sabun dari gliserolnya ini menyebabkan filtrat (hasil saringannya) menjadi bening, karena pada saat disaring, gliserol dan alkohol akan berada di dalam larutan NaCl sedangkan sabunnya akan mengendap. Penambahan air pada akhir proses pemanasan berperan sebagai katalis atau sebagai pelarut.

Pada tahap selanjutnya, setengah dari sabun yang dihasilkan dilarutkan ke dalam 100 ml aquades yang akan membentuk larutan sabun. Ketika diaduk, warna larutan tersebut keruh dan terdapat busa, dan setelah pencampuran 5 ml CaCl2 dengan 10 ml larutan sabun tersebut kemudian dikocok, terlihat busanya semakin lama semakin menghilang dan terbentuk gumpalan-gumpalan yang akan mengendap dan warna larutan tidak keruh lagi. Hal tersebut terjadi karena fungsi larutan CaCl2 ini adalah untuk mengurangi busa dan pembentukan endapan.

Pada tahap akhir dari percobaan kelima ini dilakukan tiga buah percobaan. Pada gelas kimia pertama dicampurkan tiga tetes larutan detergen, 10 ml air suling dengan larutan CaCl2, tampak tidak ada busa dan warna larutan tetap keruh karena detergen tidak dapat bereaksi denga ion Ca2+ yang terkandung dalam CaCl2 sehingga warna tidak berubah. Pada gelas kimia kedua ditambahkan 3 tetes larutan detergen dengan 10 ml air keran, tampak warna larutan agak keruh karena larutan detergen bereaksi dengan air. Warna agak keruh terjadi karena di dalam air keran terdapat zat-zat lain yang bercampur dalam air. Lain halnya dengan gelas kimia ketiga yang diisi dengan campuran detergen dan air suling, tampak warnanya lebih jernih dari larutan-larutan sebelumnya karena air suling merupakan air yang benar-benar sudah teruji kemurniannya sehingga tidak ada zat-zat lain yang akan membuat campuran tersebut bertambah keruh.

Pada percobaan terakhir dilakukan percobaan mengenai pengujian protein yang dalam hal ini menggunakan cairan putih telur yang dilarutkan dalam air yang kemudian dibagi menjadi enam buah tabung reaksi. Pada tabung reaksi pertama dilakukan uji biuret dengan mencampurkan larutan telur tersebut dengan larutan CuSO4 1% dan NaOH. Uji biuret ini digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya ikatan peptida dalam suatu senyawa sehingga uji biuret dapat dipakai untuk menunjukkan adanya senyawa protein. Dari hasil yang didapat, warna larutannya berubah menjadi ungu pekat, hal itu membuktikan bahwa cairan telur tersebut mengandung protein. Pada tabung reaksi kedua, dilakukan uji xantoprotein dengan menambahkan HNO3 pekat kemudian dipanaskan lalu setelah dingin ditambahkan NaOH dan diperoleh hasil setelah dipanaskan berwarna kuning. Hal itu membuktikan adanya senyawa protein melalui pengujian xantoprotein tersebut. Uji xantoprotein dapat menunjukkan adanya senyawa asam amino yang memiliki cincin benzena seperti fenilalanin, tirosin, dan triptofan.

Pada tabung reaksi ketiga, dilakukan uji millon. Uji millon dapat digunakan untuk menguji atau mengidentifikasi adanya senyawa protein yang memiliki gugus fenol seperti tiroksin. Adanya protein dalam sampel dapat diketahui apabila dalam  sampel terdapat endapan putih dan apabila endapan putih itu dipanaskan akan menjadi warna merah. Pada tabung reaksi keempat dilakukan pemanasan cairan telur dengan ditambahkan NaOH dan terlihat warnanya berubah menjadi kuning muda, dan setelah diperiksa uapnya dengan kertas lakmus, warna kertas lakmus berubah menjadi biru akibat penguapan NaOH (bersifat basa). Pada tabung reaksi kelima dilakukan uji belerang, yaitu penambahan Pb asetat dilanjutkan dengan penambahan NaOH. Uji belerang ini digunakan untuk menguji atau mengidentifikasi adanya senyawa protein karena dapat menunjukkan asam amino yang memiliki gugus belerang seperti sistin dan metionin. Apabila larutan mengandung asam amino yang memiliki gugus belerang maka warna larutan atau endapan akan berwarna hitam.

 

  1. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:

  1. Koloid adalah campuran homogen yang terdiri dari fase terdispersi dan fase pendispersi yang dapat dibuat dengan dua cara yaitu kondensasi dan dispersi.
  2. Kondensasi yaitu penggabungan partikel kecil menjadi lebih besar sampai berukuran koloid.
  3. Dispersi merupakan pemecahan partikel-partikel kasar menjadi partikel yang lebih halus atau lebih kecil yang dapat dilakukan secara mekanik dan peptisasi.
  4. Emulsi adalah campuran antara dua fase, zat terdispersi dan medium pendispersi.
  5. Adsorpsi adalah salah satu sifat koloid yang koloidnya bermuatan karena adanya penyerapan ion pada permukaan partikel koloid.
  6. Reaksi penyabunan merupakan reaksi dari minyak yang dilakukan dengan mereaksikan suatu alkali (NaOH) dengan minyak, yang biasa disebut dengan reaksi safonifikasi (penyabunan).
  7. Uji protein dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain uji biuret, uji xantoprotein, uji millon, dan uji belerang.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: